Nafas Hidup Bernama Kreatifitas

Nafas Hidup Bernama Kreatifitas

Djali Gafur


Judul Buku: Proses Kreatif " Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang" (Jilid I)

Editor:Pamusuk Eneste

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan: Juni 2009

Tebal:xiv + 258

Perkenalan peradaban manusia dengan dunia tulis-menulis sudah berlangsung semenjak pertama kali manusia (mesir kuno) mengenal tulisan atau 4000 tahun SM. Digunakanya tulisan sebagai media komunikasi menandai peralihan zaman. Peradaban manusia memasuki era baru dari zaman prasejarah menuju zaman sejarah. Artinya menulis bukanlah hal baru dan istimewa di zaman kita sekarang ini.

Selintas, menulis adalah perkara mudah. Semua orang pasti pernah melakukannya, menulis sebait kata, sebaris kalimat atau membuat catatan singkat. Bahkan saat ini menulis (penulis) menjadi profesi baru ditengah maraknya industri percetakan dan semakin ramainya tokobuku-tokobuku di serbu pembeli.

Namun, bila ditelisik lebih jauh, berapa banyak dari tulisan yang dihasilkan ternyata hanyalah sambilalu saja, menjadi obrolan sesaat kemudian lenyap, muncul lagi yang lainnya. Karya tersebut tidak mampu memberi arti bagi si penulis maupun si pembaca, keduanya hilang tegelam terseret zaman. Ternyata menulis bukan hanya persoalan menumpakhan rasa dalam bahasa kata-kata (tulisan) namun lebih jauh dari itu menulis atau mengarang merupakan suatu Proses Kreatif.

Lantas, apa itu proses kreatif?

Proses kreatif adalah suatu proses yang mulai kelihatan sejak kecil, sejak kesadaran pertama. Bakat dan pengalaman memegang peranan dalam proses ini. Karena bakat dan pengalaman berkembang dalam usia, maka aspek jasmani tidak boleh ketingalan (Gerson Poyk)

Dalam buku ini, Sebanyak 12 sastrawan Indonesia terkemuka mengisahkan proses kreatifnya, kisah-kisah yang sangat menarik dan inspiratif. Bagaimana Pramoedya menciptakan Perburuan dan keluarga Gelirya? Bagaimana sajak Sitor Situmorang dilahirkan? bagaimana Hamsad Rangkuti menulis cerpen-cerpennya hingga mudah di pahami murid SD kelas lima sekalipun? Bagaimana pergulatan kerasnya hidup Gerson Poyk memberi warna khas dalam karya-karyanya? Bagaimana Sapardi Djoko Damono mengubah sajak-sajaknya yang manis dan seolah bercerita?

Sejalan dengan pendapat Gerson Poyk, Pramoedya menilai proses kreatif sebagai pengalaman pribadi yang sangat pribadi sifatnya, setiap pengarang akan mempunyai pengalaman sendiri dan pengalaman itulah yang mempengeruhi karya-karya yang akan dihasilkan.

Proses tempaan hidup akan menghaluskan insting perasa manusia sehingga dia peka terhadap persoalan-persoalan di sekelilingnya. Mampu meresapi semangat zaman yang sedang dihadapi, menjadikan karya-karya yang dihasilkan memberi warna bagi dirinya pribadi maupun setiap orang yang membacanaya. Suatu proses budaya yang melahirkan Anak-anak ruhani, yang akan menjalani hidupnya sendiri-sendiri, ada yang bertahan ada juga yang lenyap hilang ditelan zaman.

Dalam berkarya menurut Sitor Situmorang, seniman dan satrawan Indonesia sekaligus memilih dan dipilih oleh tema, berbentuk tema-zaman yang mempribadi, yang mencari bentuk. Dalam menulis dan melukis, si penyair dan si pelukis menjadi unsur proses budaya, mewujudkan perpaduan berbagai elemen: rasa, pikiran (ide, ilham), dan bentuk (teknik). Sehingga lahirlah karya.

Buku ini banyak memuat bagaimana proses kreatif itu ditempa dan dibentuk. Pada umumnya mereka semua adalah generasi yang hidup di era yang penuh gejolak. Mulai dari masa Kolonialisme vs Nasionalisme (1940-1942), Fasisme Militerisme Jepang (1942-1945), Revolusi Nasional (1945-1950) sampai masa Kelam (1965-1966). Pengalaman historis inilah yang kemudian memberikan karakter kuat dalam setiap karya-karya yang dihasilkan. Mereka mampu meresapi setiap perubahan zaman, mampu mengambil intisari pergolakan zaman dan kemudian menyemai merubanya menjadi karya-karya yang mengugah.

Pada titik tersebut di mana proses kreatif sudah menyatu dengan si penulis, maka menulis atau mengarang bukan lagi persoalan, bagaimana melahirkan karya namun bagaimana bertahan hidup, bagaimana berdialog, dan bagaimana proses kreatif dimaknai sebagai bentuk keimanan.

Rori Siregar merasa begitu mesra dengan dunianya, menyadari bahwa menulis dan membaca adalah suatu kebutuhan setelah dia mencoba menghentikannya. Berhenti membaca, seakan-akan membuatnya gila. Berhenti menulis terasa menyiksa. Menulis ternyata merupakan kebutuhan yang sukar dia tolak. Sejak itulah dia merasa perlu berdialog dengan siapa saja dan dimana saja. Menulis buat dia adalah alat untuk berdialog.

Sungguh tempaan hidup dan kerja keras, selalu kreatif dalam berkarya telah melahirkan jiwa-jiwa besar. Dalam berkarya dituntut totalitas dan loyalita, karena proses pertemuan dengan kreatifitas tidak terjadi tiba-tiba melaikan memerlukan waktu yang lama bahkan membutuhkan waktu seumur hidup.

Nasjah Djamin begitu lugas mengungkapakan perasaannya, memaknai menulis dan melukis sebagai nafas hidupnya; Saya tidak bisa berbuat lain, menulis dan melukis seperti kebutuhan bernafas untuk hidup kenapa demikian karena dunia menulis dan melukis adalah bumi yang aku kenal, bumi yang lain tidak sempat aku kenal kareana untuk menyelami yang ini saja butuh waktu satu umur manusia.

Kita kemudian sampai pada pemaknaan holistik dari suatu proses kreatif yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer bahwa, kerja kreatif adalah suatu bentuk keimanan. Pulau di mana kawula meleburkan diri pada Gustinya, Pulau di mana waktu berhenti bekerja, dan kerja kreatif di dalamnya merupakan keimanan.

Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat kita petik dari buku ini. Pertama, kita bisa mengetahui proses penciptaan karya mereka. Suatu proses alamiah, benturan antara realitas keseharian dengan ide, kemudian dibalut dengan teknik menulis yang baik maka jadilah karya-karya mereka tercatat dalam kesusastraan Indonesia dan dibaca setiap generasi.

Kedua, kita jadi tahu perjuangan mereka melahirkan sebuah karya. Suatu karya tidak lahir dengan tiba-tiba namun melalu proses panjang, penyatuan antara penulis dengan karya yang hendak ditelurkan membuat karya tersebut seakan hidup dan memberi kehidupan untuk si penulis dan si pembaca.

Ketiga, boleh jadi kita mendapat pelajaran dan inspirasi dari proses kreatif mereka. Membaca karya mereka saja sudah mampu menginspirasi setiap pembaca, apalagi bila kita menelisik bagaimana proses karya tersebut lahir, tentunya menjadi lautan inspirasi maha luas yang siap diarungi.



~ Kamis, 03 Juni 2010 3 komentar

Tiga Sajak Pendek Tentang Rasa Yang Bergelayut di Dada

: untukmu..

sayang
tak pernah sampai aku
ke makna,
tiap kata ini terucap.

namun aku yakin,
sempat mengakrabinya.

bukankah ia yang mencipta bulan yang caya
di bening kau punya mata?
gelisah yang membasahi tiap jengkal kelopaknya,
membisakan aku berenang jelajahi luas samudera
Nya.

rindu
tak lagi ada suara kau.
keluh, cerita, atau sekadar tawa
yang kau selipkan di ujung canda.

kerap aku mengigau,
mungkin kau telah terbiasa, melumatkan duka
tanpa sudi aku kau serta.

sepi
selalu sempat kurapal
mantra sederhana
di pahit kopi yang kusesap,
di asap tembakau yang syahdu kulesap,

hanya sesia doa agar kau baik saja,
senaif pinta agar kau bahagia,
atau mungkin sekosong harap
hening ini takkan membunuhku segera.

~ Kamis, 18 Februari 2010 2 komentar

mantra perdua malam

kopi
ada kenangan yang karam, mengampas di tubuhnya. kekelaman. kelingaran. mara.. o, luka. o, duka. tak seputih pun suka.

rokok
puih. mengasap buih. melenyap perih. meredam rintih. bergegas, tertatih. o, duhai kau yang mengaburkan nyata dan maya. kemana tuan hendak ajak hamba?

puisi
di tubuh kau semua bias. pias.
o, lekas..

~ 1 komentar

mohon awan pada hujan

: kau..

"jangan terburu ajarkanku
bagaimana menghapus kenangan,
rindu aku akanmu
belum tuntas kupuaskan"

januari 2010

~ 1 komentar

tentang sajakku

tak perlu berkeras.
siasia kau cari makna.
aku menakdirkan mereka hanya jadi mantra.

~ 1 komentar

di taman

berapa lama kita tak bicara tentang hidup?
yang merindu redup demi redup.
(aku melihat daun yang menggugurkan dirinya. nanti ia akan jadi senyawa berguna bagi inang yang ia tinggal. sungguh, demi cinta ia rela tanggal)

sudah berapa dingin yang engkau cecap?
berapa gerah yang engkau resap?
(bungabunga di tamanmu mulai ngembang. mengungu, memerah,
biru..)

duhai kau yang mencumbu sepi,
nanti bakal ada senyap yang lebih duri.
(rumput liar yang hijau itu seakan enggan melepas napas. meski tubuhnya kau injak, kau tekan hingga lesak)

Desember 2009

~ 2 komentar

di pernikahan kau 2

di luar, hujan menderas. seakan ingin membilas sakit
yang tibatiba menoda di hati.

lengking rinainya seolah coba menghapus sepi
yang seketika menderas di nadi
kami.

tangantangan hujan yang makin rimbun
mengajakku cepatcepat pulang.
ia berbisik: “aku ingin membantu kau menyamarkan
air mata.”

“tak ada air mata,” kataku. “merasuk saja ke dirinya lekas. aku sungguh tahu, air mata
di hatinya lebih deras..”

tahukah kau hujan? suatu ketika, di waktu yang hendak samasama
kami lupa, kami lebih senang memelihara tawa.

lagipula, hari ini kami
sedang tidak ingin
berduka.

Desember 2009

~ 1 komentar

di pernikahan kau

ketika kau ucap ayatayat syahdu,
tersadarlah aku;
tak ada yang selamanya,
yang kini, kelak akan menjadi purba.

ketika bibirnya mengecup lembut ujung dahimu,
pahamlah aku;
yang nyata adalah maya,
dan masingmasing kita dikutuk memahaminya.

ketika tak ada air mata deras di pipimu,
insyaflah aku;
tak guna duka di atas bahagia,
kita telah sama dewasa,

bukan?

~ 1 komentar

di sepi malam

detak detik,
kerik jangkrik,
denting ranting,
derak ombak.

di malam sepi suara seperti sekarang, sungguh tak ada yg lebih aku rindukan selain dengus napas kau yg tertidur lelap di ujung telepon, meninggalkan aku yg tetap terjaga, menjaga agar kenangan tak jadi mimpi buruk di lelap kau malam ini.

tidurlah sayang. aku kembali tak lelap demi mimpimu.

Desember 09

~ 1 komentar

adakala

tak guna berkeras pada tanya.
bukankah kau lebih suka mengosongkan isi kepala
dan menyerah pada ada?

arti yang kuucap, misteri yang kuungkap,
tak pernah kau tanggapi kerap. lalu mengapa kau
paksa aku jelaskan terang pada kau, makna apa
yang kukejar dalam hidup?

tak guna berkeras pada tanya, yang tak bisa kau pahami,
yang tak mudah kau mengerti, walau aku menjawab dengan bahasa
yang lugas sahaja. namun sayang, diamku ini paling tidak bisa buat kau paham,
sebagai manusia, aku sungguh tak sederhana.

~ 1 komentar

Negeri Para Kufar


Negeri para kufar
Nafsu dewan terhormat sebagai Tuhanya
Uang dan sex lengkapi kekuasaan
Hamparan bidak jelata diperbudak
Di negeri sendiri memuja P.B.B kedok U.S.A

Sistem negeri para kufar
Hukum Islam kolaborasi selangkangan setan
Lahirlah faham zionis berkedok demokrasi
Tipu daya invansi konseling sekulerisasi
Membungkam syariat ajaran suci para nabi

Penguasa negeri para kufar
Siapa yang berkuasa, siapa pula jadi daki
Menari menegak wiskey berlabel 100% H.A.L.A.L
Bercumbu rayu dengan setan masih merasa suci
Tak peduli rakyat sendiri meratap setengah mati

Rakyat negeri para kufar
Ego diri menjadi perisai sebelum mati
Meringis si miskin jilati ujung belati
Sedang si kaya telan mentah peluru mitraliur
Berharap selamat mengerat karat niraya

Solusi negeri kufar
Hijrah, migrasi sistem Illahi
Tegakkan tonggak kuat supremasi hukum
Bukan hati nurani apalagi gelimang materi
Revolusi, revolusi Islam jadi solusi!

November 09

~ Sabtu, 19 Desember 2009 7 komentar

Musim Penghujan

sore diselimuti mendung rinaimu
sudut-sudut kota digelayuti sepi
hari serasa mati tak berkedip
hanya sumpah serapah terdengar
terselip suara pedagang kaki lima membungkus lapaknya
sementara petani ladang menyiapkan persembahan
sesajen musim tanam telah tiba
di Ibukota semua orang sibuk menyambut tamu tahunan
banjir siap melayat
mengunjungi setiap sudut kehidupan
bahkan jika sempat
sowan Presiden di Istana Negara
musim hujan, musim penuh warna
seperti pelangi yang kau titipkan
lalu kau hapus dengan gerimis
perlahan hujan menjama bumi


Jogja, 21 Nov 09



Gambar
,,,

~ Sabtu, 21 November 2009 7 komentar

Perpustakaan Emperan, Komunitas Tanpa Nama




Kali terakhir saya mengunjungi Jogjakarta, bulan Ramadhan lalu. Saya bertemu dengan Dimas Pratisto, seorang kawan di Komunitas Tanpa Nama (KTN), komunitas sastra yang kami dan delapan orang kawan lain bentuk di Jogjakarta. Siang hari yang panas itu, saya berjanji betemu dengan Dimas di tempat usahanya, warung masakan Aceh di daerah Baciro, dekat Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Ketika saya sampai di Baciro, Dimas sudah ada di sana. Dia lalu mengajak saya untuk mengobrol di dapur warungnya, sebuah kontrakan di dekat situ.

“Biar lebih santai,” katanya. Saya pun mengiyakan. Kami lalu beranjak ke sana.

Sesampai di kontrakan, Dimas membuatkan kopi. Kami mengobrol santai sambil menyeruput kopi yang ia buatkan. Kami berdua sedang tidak berpuasa. Saya, hari itu akan melakukan perjalanan jauh, pulang ke Lampung. Karenanya saya malas berpuasa. Dimas, dia agnostik, tak terlalu percaya tuhan ada (hahaha). Setelah beberapa obrolan basa-basi sekadar, saya mengutarakan maksud saya bertemu dengannya siang itu. Saya bilang ke dia, saya tidak bisa lagi menetap di Jogjakarta. Saya sudah terikat ruang lain. Untuk sementara, saya akan tinggal di Lampung, menyenangkan hati orangtua saya agar menetap di sana, sembari mencari kemungkinan “ruang” lain. Karenanya, segala kegiatan yang ada di Jogjakarta, sedikit terpaksa harus saya tinggalkan. Termasuk kegiatan komunitas.

Tapi, karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan kegiatan menulis dan berkomunitas, saya bilang ke dia, bahwa saya ingin membuat komunitas sastra di kampung halaman saya, Kalianda, ibukota Kabupaten Lampung Selatan. Komunitas baru, dan tentu saja, orang-orang baru. Di dapurnya itu, saya sekaligus berpesan agar kegiatan komunitas kami jangan sampai mengendur. Sayang sekali jika komunitas yang sudah kami bentuk dengan mengorbankan tidak sedikit waktu dan tenaga harus berhenti di tengah jalan. Dimas mengiyakan.

“Kamu yakin mau bentuk komunitas baru?” Tanya Dimas kemudian.

“Kenapa tidak melanjutkan komunitas yang udah ada aja?” tanyanya lagi.

“Kan kamu tinggal cari orang-orang buat aktif di komunitas.”

“Lagipula, beberapa kawan komunitas suatu saat pasti juga balik kampung seperti kamu,” ujarnya.

“Nanti mereka yang balik kampung juga, suruh buat KTN di daerahnya masing-masing,”

“Nanti sapatahu malah kita bisa bikin jaringan nasional dari bibit-bibit komunitas yang kalian bentuk, ” kata Dimas lagi.

Saya lalu berpikir, usulan Dimas untuk “memindahkan” KTN ke kampung halaman saya tak ada salahnya. Mimpi membangun jaringan komunitas yang lebih luas tentu saja mimpi yang masuk akal. Lagipula, dengan cara ini, ikatan emosional saya dengan kawan-kawan komunitas di Jogja bisa tetap ada. Sebenarnya juga, saya agak berat pisah dengan mereka. Saya lalu menyetujui usulan Dimas.

Tak terasa, kopi sudah habis. Sudah jam dua lewat tiga puluh. Telepon genggam saya berbunyi. Ternyata Didik menelepon. Didik kawan kuliah saya, juga asal Lampung. Hari itu saya dan dia naik bis yang sama. Dia marah-marah kepada saya. Setengah jam lagi bis yang kami tumpangi akan berangkat.

“Cepet balik woy,” kata Didik. Untung saja dia menelepon, kalau tidak saya pasti lupa waktu. Dan saya tiba-tiba teringat, saya bahkan belum mengepak pakaian.

Setelah berpamitan dengan Dimas dan menitip salam ke kawan-kawan komunitas yang lain, saya bergegas menuju kosan Didik.

Di bis menuju Lampung, entah kenapa saya sedikit sedih meninggalkan Jogja, kota yang lima tahun lebih saya tinggali. Lesehan pinggir jalannya, warung-warung kopi serta obrolan-obrolannya, orang-orangnya, suasananya, semua.

***

Setelah sampai di Lampung, saya berpikir keras. Kegiatan awal apa yang bisa mengumpulkan kawan-kawan untuk berkomunitas? Dengan modal saya yang tidak seberapa tentunya. Lalu saya melihat buku-buku saya yang tersusun di lemari. Saya kemudian berpikir, kenapa tidak mencoba membuat perpustakaan pinggir jalan? Orang-orang yang datang membaca bisa saya ajak bikin komunitas. Paling tidak, saya bisa sedikit beramal. Mumpung ini masih bulan puasa. Saya kemudian mengumpulkan semua buku di dalam lemari. Ternyata cuma ada satu kardus, dan kebanyakan buku-buku sastra. Saya pikir lumayanlah untuk perpustakaan kelas emperan.

Setelah yakin mau bikin perpustakaan emperan sebagai mula kegiatan mengumpulkan orang-orang untuk berkomunitas, saya kemudian menemui Napoleon Bonaparte. Dia biasa dipanggil Leon. Dia aktif di Asosiasi Seni Independen Kalianda (ASIK). Dia menjabat ketua. Saya langsung mengingat dia dan ASIKnya, soalnya mungkin saja dia tertarik dengan kegiatan sosial non profit seperti ini. Lagipula, saya tahu dia juga senang menulis. Saya pun menemuinya di distro tempat biasa dia nongkrong.
Ketika bertemu dengan dia, saya tanpa basa-basi langsung bertanya: “Lu sibuk ga Yon?”

“Ngemper yuk, ngabuburit sambil buka perpus,” ajak saya.

Dia menanyakan maksud saya lebih lanjut. Saya lalu menceritakan kehendak saya, tentang keinginan berkomunitas, saran Dimas di Yogyakarta, dan lainnya. Tak menyangka, dia mengiyakan ajakan saya.

“Ya udah, kalo lu setuju besok gua bikin spanduknya,” kata saya.

“Kalo spanduknya udah jadi, tar gua hubungin ya,” kata saya lagi. Saya senang dia bersedia bantu-bantu saya.

Tapi ternyata, spanduk tidak bisa jadi cepat. Baru bisa jadi tiga hari kemudian. Padahal lebaran tinggal lima hari lagi. Saya hitung-hitung, perpustakaan bakal tidak efektif. Saya lalu menjumpai Leon lagi, dan bilang ke dia kalau kegiatan perpustakaan tidak jadi dilaksanakan di akhir bulan puasa ini. Mungkin setelah lebaran baru bisa dilaksanakan. Lagi-lagi, Leon mengiyakan. Saya merasa agak sedikit bersalah karena kegiatan tidak jadi jalan, padahal dia sudah semangat membantu. Dan waktu saya konfirmasi ke dia kalau jadwal ngemper diundur, dia bilang ada beberapa orang yang tertarik dan mau bantu. Dan ada beberapa bahkan tertarik buat menyumbang buku. Ah, saya jadi tambah merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, mengingat hari lebaran yang sudah di depan mata, dan sarana kegiatan belum lengkap, mau tidak mau kegiatan harus saya batalkan.

***

23 Oktober 2009. Sudah empat hari ini perpustakaan emperan yang saya rencanakan berjalan. Setelah lama tertunda karena tetekbengek silaturahmi paska lebaran, dan ada beberapa keperluan yang harus saya lakukan, akhirnya mimpi ini bisa terealisasi.

Tadinya saya ingin mengajak Leon untuk menemani saya ngemper. Tapi ternyata dia sedang sakit, terkena tipes.

“Ya udah, lu istirahat aja dulu. Biar gua sendiri aja,” kata saya.

“Ga, gua bisa kok, besok gua temenin,” jawab Leon. Dia memang sedikit keras kepala walau kepalanya tak sekeras saya. Hahaha.

Ternyata, kekeraskepalaannya tidak bisa menyembuhkan sakit yang dia derita. Kabarnya, kondisi badannya semakin menurun. Tentu dia tak bisa menemani saya ngemper, buka perpustakaan.

Untungnya M Nur Andriansyah, saya biasa memanggilnya Bang Andri, bersedia menemani saya memermalukan diri, ngemper di trotoar dekat bunderan tugu Adipura, dekat kantor Bupati Lampung Selatan. Mulai dari awal buka perpus sampai hari ke empat ini, dia menemani saya, mulai dari memasang spanduk, menggelar tikar, menyusun buku, makan batagor, minum es buah, sampai bengong-bengong menunggu orang-orang yang sudi mampir dan menumpang baca.

Ternyata, minat baca di Lampung Selatan memang tidak sebagus Jogja. Hari pertama, cuma ada dua orang perempuan yang membaca sebentar. Salah satunya malah mencari buku hukum berbahasa inggris. Rupanya, dia kira saya sekaligus berjualan buku. Ada-ada saja. Pengunjung lain, hanya beberapa orang kawan yang lewat dan mampir untuk sekedar menyapa. Hari ke dua tak jauh beda. Cuma, ada seorang mbak yang mampir untuk melihat-lihat dan menawarkan bantuan buku. Saya cuma mengiyakan. Hari ke tiga pun begitu.

Hari ke empat ini, lebih lumayan dari hari-hari sebelumnya. Ada dua orang bapak, yang satu datang membaca sembari menunggui istri dan anaknya yang sedang menghabiskan waktu sore di lapangan Pemda, dan satunya mampir membaca sejenak setelah menjemput anaknya yang berlatih Volley. Lalu ada seorang mbak yang mampir baca, dan setelah beberapa kali membolak-balik halaman beberapa buku, dia bilang: “Wah, berat-berat. Pusing mbak bacanya.” Mbak itu, juga menjanjikan akan memberikan buku untuk disumbangkan, saya juga mengiyakan tawarannya.

Sedikitnya orang-orang yang datang baca, malah makin menyemangati saya untuk terus melakukan kegiatan ini selama saya masih punya tenaga dan waktu yang cukup. Ala bisa karena biasa, bukan? Perpustakaan emperan ini, rencananya akan rutin saya dan Bang Andri buka di trotoar bunderan Tugu Adipura setiap hari. Mulai dari jam tiga sampai menjelang maghrib. Mudah-mudahan tetap bisa konsisten dan tetap punya kelebihan waktu dan tenaga. Tentu saja, karena ini masih kegiatan awal, mungkin ada beberapa hari perpustakaan tidak bisa buka.

Ke depannya, saya kepingin buat klub diskusi penulisan. Saya rencananya memeruntukkan klub ini buat kawan-kawan pelajar di Kalianda. Walau saya bukan penulis yang baik dan kesohor, siapa tahu dari kegiatan ini saya bisa bantu-bantu kawan-kawan pelajar yang punya bakat menulis buat mengembangkan kemampuannya. Dengan cara berdiskusi dan bertukar pengalaman tentu saja. Saat ini, saya masih menulis dan mengumpulkan bahan-bahan buat rencana saya ke depan itu. Yang entah, bisa terwujud atau tidak. Yang penting niat dulu sajalah, urusan terealisasi atau tidak, itu permasalahan ke sekian, bukan?

***

NB: Tulisan dan kegiatan saya ini, saya peruntukkan buat kawan-kawan KTN di Jogja. Mudah-mudahan kalian tetap tidak bosan berkomunitas, paling tidak untuk sekedar ngumpul dan berbagi cerita. Ayo!

~ Minggu, 15 November 2009 3 komentar

biar kutitipkan kau pada semesta

biar kulepaskan kau bayi mungil lucuku
bayiku gemuk berkulit gelap
bermata sayu dan berbibir agak tebal
beri kesempatan aku untuk melupakanmu

biar kutitipkan kau pada semesta
sebab merawatmu,
sama saja menyaksikan kematianmu pelan-pelan
rambut kriting hitam di kepalamu
belum mengerti mahalnya susu dan makanannmu di negeri ini
harganya telah membuat ayahmu mati kemarin pagi
dikeroyok manusia satu terminal

di tanah yang katanya surga tropis ini
srigala dan setan bersindikat menjadi raja rimba
ini persoalan tak sederhana, nak
matamu sayumu terlapau bening untuk paham segala
jadi, biarkan kutitipkan kau pada alam raya
tidur yang nyenyak di keranjang ini,
menagislah esok di dingin pagi
semoga seorang bingung berkenan menjemputmu

kelak jangan percaya pada siapun
jangan pernah cari aku, ibumu
apalagi ayahmu
: ia telah mati kemarin pagi
dibacok orang satu terminal
lantaran ketahuan menyobek tas seorang penumpang

jangan pernah cari aku
aku akan mulai berdandan dan bersahabat dengan malam
menjual daging berlendir
sambil menertawakan nasib yang makin muram
ijazah tamat SMPku, sudah lama aku lupakan
telah lama hilang bersama banjir dan hujan di rumah bocor kita
tidurlah dan esok pagi menangislah
aku, ibu kandung yang secara halal dan sah menikah dengan ayahmu
akan pergi mengganti semua identitas
kau bukan anak haram,
hanya saja kau lahir pada keluarga yang salah
kami manusia miskin yang tak mau berbagi kemiskinan denganmu
sayang


2009

~ Jumat, 06 November 2009 5 komentar

Tersungkur Darah Palestine

Secangkir coklat sudah tak nikmat
Dentuman peluru berbisik risih
Kepada kepala penjaga kesucian

Segar darah bercampur jeritan
Menjadi pembuka kebiadaban agresi
Derita Palestine tak berhenti

Menggenang segar air kemerahan
Udara yang tenang telah menghitam
Dan batu berderu menjadi debu
Bendera jihad berkibar berlumur peluh

Sedang aku tersungkur lupa makna
Ketika engkau terluka, maka ku terluka
Engkau bergerak, aku masih menyepi
Terdiam bak tak punya arti

Surakarta, 28 Oct 2009

Untuk kalian yang paling merasa suci dengan harokahmu!
Untuk kalian yang merasa paling ahlu sunah!
Untuk kalian yang berkiblat pada MUI!
Untuk kalian yang punya hati tak peduli dan tak bernyali!

~ Minggu, 01 November 2009 2 komentar

Bersemi Kembali

Dedaun hijau belajar untuk tumbuh
Memenuhi sudut sempit temui pagi
Tersenyum seakan hidup kembali
Garis mentari naungi sisi kiri

Akar mulai menjelajahi
Setitik semangat yang ber-arti
Meski syarat akan misteri
Benalu bersemi kembali

Jogjakarta, 27 Oct 2009

~ Selasa, 27 Oktober 2009 3 komentar

Dari Anthology Sampai Berayam-ayam


Pasti yang di garis bawahi berayam-ayam ni, sabar kita orang nak cerita tentang kopdar di bundaran UGM malem senin tertanggal 18 Oktober 2009. Dengan sedikit perjuangan akhirnya kita berkumpul bareng lagi. Memang berkumpul bersama KTN meski perlu perjuangan mesti ngorbanin kesibukan sendiri.

Rencana pertama kopdar minggu ini dilakukan pagi hari sebelum matahari terbit setelah subuh jam 5 pagi, berhubung beberapa kendala akhirnya di ganti jam 19.00(kira-kira). Malam kopdar kali ini tak penuh seperti biasa, yang nampak saat itu sekitar 60 orang antara lain Tampan Bajang, Romantisme Toilet Kata, Bijak Paradoks, Misterius Djali, Cute Abies Mega Ai dan tentu saja Lonely Chan hehe biar kalian tersungging. Tetapi pertemuan kali ini tak terlalu larut sekitar jam 22.30 udah bubaran, apalagi Mega Ai yang hobi bolos maklum anak kuliah yang rajin lagi banyak tugas. Klo Chan malah telat dateng biasa klo cuman SMS ga mau dateng, harus di telephone 1 jam baru dateng. hehe..

Okay, setelah ngalor ngidul kita bergunjing bermesraan (hii..) akhirna beberapa keputusan yang wajib di simak para Tanpa Nama,

1. Bagi kalian manusia Tanpa Nama di haruskan membuat Resensi tentang buku yang akan kita launching "Tralala Trilili" dan di posting di kamu punya site personal atau blog.

2. Kita orang nak bertandang ke tempat Bung Saut buat ritual (weleh..) untuk waktu kita masih menyesuaikan.

3. Dalam waktu dekat, Bung Paradoks akan launcing rumah makanya yang akan di berinama yang luarbiasa yang menyalahi etika bahasa yaitu "berayam-ayam". Yang akan menyajikan makanan dari pagi sampai malam. Tempat ini juga bakalan jadi bascamp anak KTN juga tempat launching buku "Tralala trilili".

4. Masalah Privasi silahkan hubungi yang kemaren dateng. Tentang sistem penjualan buku Tralala Trilili termasuk dari harga sampai distribusi.

5. Selesai

Berikut tadi hasil daripada kita kumpul di Bunderan UGM kemudian pindah ke Kampung Lembah UGM dimana di situ akan di buat Restauran berbintang "Berayam-ayam". Bagi yang senang berayam-ayam silahkan datang. Mungkin itu saja yang bisa kita laporkan selebihnya dikurangi nanti bisa ditambah di kolom komentar. - Chan

~ Senin, 19 Oktober 2009 4 komentar

Esekusi Hati

Menapaki lagit-langit tak bertepi
Temani purnama yang menagis pilu
Dalam pelukan mendung haru kelabu
Merajut metafora di ujung malam

Sisa perjalanan di ujung gelap
Purnama beranjak tinggalkanku
Sepertiga malam kembali aku berhenti
Merangkum kata-kata tak aku fahami

Diantara bahasa dan hati yang mencekam
Apalah arti persahabatan tak berenergi
Mulai lelah ratapi rindu tak terkendali
Kemudian berakhir setelah muncul mentari

Bersama air mata aku mencoba
Memaknai semua rasa, nada, kata, sketsa jiwa
Menghakimi kegundahan perpisahan hati
Ilahi Robbi yang terakhir mengeskusi


Dariku yang takkan melupakanmu


Surakarta, 16 Oct '09

~ Jumat, 16 Oktober 2009 3 komentar

Ode Sepi Untuk Sigaret

Lama aku mematung di depan cermin
mematutmatut pakaian mana yang pantas
kupakai ke pemakaman kau

yang rela membakar tubuhmu sendiri
untuk menghanguskan sepi
yang beku di tubuhku.

~ Rabu, 14 Oktober 2009 2 komentar

Satu!

mari kita bersepakat,
tuk tak menyepakati apapun.

aku makin tua,
satu angka baru bergelayut di angka dua.

dan aku,
masih belum apaapa,

masih belum apaapa!


mari bersepakat,
kita masih tak menyepakati apapun.

kau hijau, aku demikian.
masihkah kau menyangkal, aku lebih dari kau sebagian?

mari bersepakat, kini kita tak meyepakati apapun.
ke depan, kita bersetuju, kau dan aku samasama tahu
satu rasa, satu menuju!

satu menuju!!

~ 4 komentar

Gerilya Untuk Bencana


Simak berapa nyawa mesti hilang dan bercak darah mengalir deras bercerita tentang derita saudara kita di bumi Indonesia bagian barat. Sahabat komunitas tanpa nama, undangan besar bagi kita untuk andil dalam mengatasi derita-derita mereka, karena duka mereka derita kita bersama.

Undangan untuk kita turun di jalan dengan cerita coretan kita bersama debu jalanan. Mari kita menyepi dari urusan pribadi, salurkan naskah-naskah perjuangan untuk negeri yang setengah mati ingin menghirup udara pagi.

Kita tunggu untuk kopdar selanjutnya with project "Ketika Tanpa Nama Bukan Tanpa Makna". Seperti biasa plese confirm to all friend.

~ Jumat, 09 Oktober 2009 2 komentar